Tampilkan postingan dengan label Penanganan KLB Wabah dan Bencana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penanganan KLB Wabah dan Bencana. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Maret 2012

Waspadai racun belalang ‘TomCat”: Dapat menyebabkan gangguan kulit memerah seperti terbakar



Tomcat memang tengah mengamuk di Surabaya. Ratusan orang menjadi korban.  Sampai 19 Maret saja, Dinas Kesehatan Surabaya mencatat 48 orang melapor ke Puskesmas. Demikian dikutip dari VIVANews. Tentu, jumlah korban bisa lebih besar. Banyak warga terkena Tomcat tapi  tidak melapor ke Puskemas. Contohnya  Djuariyah.  Di tempat dia tinggal, hanya 11 orang yang ke Puskesmas, padahal korban di sana ada 60 orang.

Belajar dari kasus Djuariyah
Ketika petang Ahad pekan lalu Djuariyah, 46 tahun, berangkat mandi dia tak menduga binatang kecil menempel di handuknya membawa perkara. Warga Blok B Rumah Susun Sewa (Rusunawa) Randu, Kenjeran, Surabaya itu menganggap serangga tadi hanya seekor semut. Tak berbahaya. Selesai mandi, Djuariyah pun mengeringkan badan. Tak ada yang janggal. Pada malam hari lehernya terasa gatal. Dia menggaruknya. Tapi gatal itu kian menjadi. Makin kuat dia menggaruk, makin meradang kulitnya. Rasa gatal itu merambat cepat ke paha kanan, dan lengan kanan. Djuariyah mengerang. Kulitnya mulai perih dan panas. Ia mencoba memberi salep, dan menaburi bedak biang keringat. Tapi sia-sia.

Apa sebenarnya belalang Tomcat?
Sejatinya, belalang ’Tomcat” punya banyak nama. Di luar negeri ia disebut Kumbang Rove (Rove Beetle). Orang Indonesia menyebutnya  Semut Kanai, atau di Malaysia dipanggil Semut Kayap. Nama ilmiah serangga itu adalah Paederus Fuscipes. Serangga ini termasuk Ordo Orthopetra dan Famili Staphylinidae.
Bentuknya sepintas seperti pesawat tempur Tomcat F-14



Pakar serangga dan Guru Besar Entomologi Institut Pertanian Bogor, Prof. Dr. Ir. Aunu Rauf, M.Sc. sebagaimana dikutip dari VIVANews mengatakan, “Binatang ini disebut Tomcat, mungkin karena bentuknya sepintas seperti pesawat tempur Tomcat F-14.” Tubuh kumbang ini ramping, ukurannya kurang satu sentimeter, sekitar 7-10 milimeter, dan lebar 0,5-1,0 milimeter.  Kepalanya hitam, sayap biru kehitaman. Bagian toraks dan abdomen oranye, atau merah. Pada saat berjalan, bagian belakang tubuhnya melengkung ke atas.

Tomcat berkembang biak di tanah, dan tempat lembab. Seperti di galangan sawah, tepi sungai, daerah berawa dan hutan.  Serangga ini sangat doyan cahaya, terutama lampu rumah. Itu diduga menjadi alasan mereka meloncat dari sawah ke pemukiman manusia.  Lahan bagi sawah juga kian sempit Kumbang ini adalah pemangsa serangga lain. Ia musuh alami dari hama tanaman padi, wereng coklat. Maka, boleh dibilang Tomcat adalah sahabat petani.

Serangga itu sebetulnya tak menggigit, atau menyengat. Tapi jika terganggu atau tidak sengaja terpijit, ia akan mengeluarkan cairan. Inilah yang berbahaya. Cairan itu penyebab kulit memerah seperti terbakar (dermatitis). Itu sebabnya sering disebut Paederus Dermatitis. Di cairan itu ada zat racun yang disebut pederin. Ada yang menyebutnya 15 kali lebih beracun dari bisa ular kobra.
Bila racun Tomcat terkena di kulit manusia maka akan timbul rasa gatal, panas menyengat dan perih. Bila digaruk, maka bentolan mengandung nanah berwarna bening, akan pecah, dan menyebar ke daerah kulit lain seperti penyakit herpes. Sebaran bentolan akan semakin luas. Bila diobati, penyakit ini akan reda dalam 10 hari, atau dua minggu.

Tidak hanya terjadi di Indonesia. 
Serangan belalang Tomcat pernah dilaporkan terjadi di Okinawa-Jepang (1966), Iran (2001), Sri Lanka (2002), Pulau Pinang-Malaysia (2004dan 2007), India Selatan (2007) dan Irak (2008). Karena serangan kian meluas, pemerintah pun turun tangan. Dua kementerian, Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pertanian terlibat. “Sudah ditangani supaya tak meluas,” kata Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Agung Laksono.

Jangan dipencet
Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Kementrian Kesehatan, Dr Tjandra Yoga, dalam keterangan tertulisnya ke VIVAnews mengungkapkan agar warga tak panik. Ini bukan wabah mematikan. Ia memberi tips jika warga bertemu serangga ini. Antara lain, jangan dipencet agar racun tidak mengenai kulit. Masukkan ke kantung plastik dan buang ke tempat aman.  Bila kumbang ini berada di kulit, singkirkan dengan dengan meniup, atau memakai kertas. Beri air mengalir, dan sabun pada kulit yang terpapar cairan serangga ini. Bila masih terasa bengkak dan gatal, segera datang ke dokter.

Kembalikan ke habitatnya
Perlukah serangga ini dibasmi? Pakar penyakit, hama, dan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Dr Suputa, tak setuju. Dia  mengingatkan, Tomcat bukanlah hama yang pantas dibasmi. Serangga kecil itu adalah predator, dan musuh bagi wereng, hama paling menakutkan bagi para petani. Wereng membuat petani menangis, karena mengisap isi bulir padi. "Tomcat ini serangga berguna yang seharusnya kita dipindahkan ke lahan sawah," kata Suputa

Rabu, 21 Maret 2012

Antisipasi Penyakit Yang Biasa Muncul Pada Musim Hujan



Bagaimana sebenarnya gambaran musim penghujan saat ini?

·        Indonesia saat ini sudah memasuki musim penghujan. Curah hujan tertinggi diperkirakan terjadi pada bulan Januari sampai awal Februari 2012.
·        Datangnya musim hujan merupakan faktor risiko untuk terjadinya penyakit.
·        Hal ini seperti disampaikan Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama mengenai antisipasi penyakit yang biasa muncul pada musim hujan dalam berita persnya di Jakarta, 4 Januari 2012

Penyakit apa saja yang perlu diwaspadai?
beberapa penyakit yang perlu diwaspadai selama musim penghujan adalah penyakit akibat virus, penyakit akibat bakteri dan parasit, penyakit akibat jamur, penyakit-penyakit tidak menular, serta penyakit yang disebabkan vektor.
·        Penyakit akibat virus seperti influenza dan diare; 
·        penyakit akibat bakteri dan parasit, terutama pada daerah yang airnya meluap sehingga bakteri dan parasit dari septic tank dan kotoran hewan terangkat dan hanyut kemudian mengkontaminasi air, bahan pangan, atau menginfeksi langsung manusia, seperti  diare, disentri, kecacingan, leptospirosis;
·        penyakit akibat jamur terutama akibat kelembaban pada pakaian;
·        penyakit tidak menular seperti asma, rhinitis, perburukan penyakit kronik;
·        dan penyakit yang disebabkan vektor, seperti: demam berdarah,


Dari jenis2 penyakit tadi, yang sering menimbulkan atau berpotensi wabah/KLB Penyakit, penyakit apa?
·        Semua penyakit menular sebagian besar berpotensi menimbulkan KLB penyakit
·        Ada jenis penyakit yang cepat sekali menular kepada orang lain, diantaranya: Demam Berdarah, Chikungunya dan Diare
Khusus penyakit demam berdarah, bagaimana risiko penularannya?
·        Pada peralihan musim penghujan perlu diwaspadai akan munculnya penyakit demam berdarah. Pada masa ini, populasi nyamuk demam berdarah meningkat karena banyaknya tempat perindukan.
·        Karakteristik nyamuk Aedes, hidup pada genangan air jernih, yang tidak menyentuh tanah secara langsung. Dengan adanya barang-barang seperti kaleng, ban bekas, tempayan yang terisi air, jika tidak diamankan, sangat disukai nyamuk untuk berkembang biak.
·        Selama tahun 2011 tercatat 31 dan selama bulan Januari ada 2 kasus DBD di Kebumen ada di beberapa tempat
·        Kasus DB sudah muncul tidak hanya di perkotaan
·        Kelompok masyarakat yang paling rentan dalam kondisi ini biasanya: anak-anak, khususnya Balita, ibu hamil dan ibu menyusui, orang tua serta orang dengan berbagai penyakit kronis.
Untuk penyakit Chikungunya, bagaimana risiko penularannya?
·        Penyakit chikungunya adalah penyakit yang di sebabkan oleh virus chik yang di bawa oleh nyamuk Aedes Aegypti. Nyamuk yang juga penular penyakit demam berdarah.
·        Penderitanya merasakan demam dan nyeri hebat pada persendian yang merupakan gejala khas demam Chikungunya



Untuk penyakit diare, bagaimana risiko penularannya?
·        diare adalah buang air besar (BAB) encer lebih dari 3 kali sehari dengan atau tanpa darah atau lendir
·        penyakit ini diakibatkan oleh bakteri, terutama pada daerah yang airnya meluap sehingga bakteri dari septic tank kemudian mengkontaminasi air, bahan pangan atau bahkan makanan
·        Dapat menimpa pada seluruh golongan umur
·        Selama tahun 2011 tercatat 19.275 orang
Bagaimana upaya Dinas Kesehatan?
·        Sebagai antisipasi dengan datangnya musim penghujan, Kementerian Kesehatan hingga Dinas Kesehatan dan Puskesmas, telah melakukan upaya peningkatan promosi kesehatan kepada masyarakat tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
·        terutama dalam hal penggunaan air bersih; cuci tangan dengan air bersih dan sabun; penggunaan jamban sehat, pemberantasan jentik di rumah, sekolah, kantor, dan lingkungan sekitar; konsumsi buah dan sayur setiap hari; beraktivitas fisik setiap hari; membuang sampah pada tempatnya; tidak meludah sembarangan; serta penggunaan alat pelindung diri, misalnya memakai sepatu boot saat terjadi banjir untuk menghindari infeksi leptospira dan memakai lotion anti nyamuk di wilayah rawan/endemis demam berdarah
·        Bagi petugas kesehatan, diingatkan, untuk meningkatkan kewaspadaan dini dengan surveilans melalui sarana yang tersedia, diantaranya melalui early warning alert response system (EWARS), laporan mingguan kewaspadaan penyakit, surveilans aktif mingguan, dan sms gateway 083-876543-100; meningkatkan pengawasan faktor risiko lingkungan seperti higiene sanitasi air dan lingkungan, tempat perindukan nyamuk, dan lain-lain terutama di daerah banjir dan rawan banjir, menyediakan logistik bahan penjernih air; menyiapkan obat dan alat kesehatan yang memadai di Puskesmas, Rumah Sakit dan sarana pelayanan kesehatan; serta berkoordinasi dengan dinas kesehatan provinsi dan  Unit Pelaksana Teknis (UPT) serta lintas sektor terkait.



Bagaimana upaya pencegahannya di masyarakat
1.      Lingkungan harus selalu diperhatikan agar tetap bersih.
·        Pastikan bahwa makanan dan minuman yang masuk ke dalam mulut terjamin kebersihannya dan higienis pengolahannya. Ajarkan pada anak untuk tidak jajan sembarangan. 
·        Guna memutus perkembangbiakan nyamuk dan mencegah terjadinya KLB DBD dan Chikungunya, warga dihimbau untuk mengoptimalkan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di lingkungan rumah masing-masing Melalui kegiatan 3M+ (Menutup, Menimbun dan Mensuras plus memelihara ikan pemakan jentik, menabur larvasida, menggunakan kelambu pada waktu tidur, memasang kasa, menyemprot dengan insektisida, menggunakan repellent, memasang obat nyamuk dan memeriksa jentik berkala.)
·        Dinkes melalui Puskesmas juga berupaya memberikan kepada masyarakat bubuk abate dan penyuluhan, mengoptimalkan kerja para kader puskesmas menyebarkan informasi tentang PSN. Selain itu, juga melakukan fogging di kawasan-kawasan yang terdapat kasus setelah melalui penilaian  dan criteria bahwa: apabila hasil Penyelidikan Epidemiologi ditemukan penderita DB lain atau ≥ 3 tersangka serta ditemukan ≥ 5 % rumah (radius 100m dari penderita) terdapat Jentik nyamuk

2.    Menjaga agar tubuh tetap sehat
·        Jaga kualitas dan kebersihan makanan
·        Perbanyak makan sayur dan buah
·        Hindari atau kurangi makan makanan dan minuman yang terlalu dingin, terlalu manis dan goreng-gorengan, karena akan merangsang dan mudah mengiritasi tenggorokan
·        Suplementasi mineral dan multivitamin

Selasa, 10 Januari 2012

Imunisasi penting untuk mencegah penyakit berbahaya


Manfaat imunisasi untuk bayi dan anak
Bayi dan anak yang mendapat imunisasi dasar lengkap akan terlindung dari beberapa penyakit berbahaya dan akan mencegah penularan ke adik, kakak dan teman-teman disekitarnya. Imunisasi akan meningkatkan kekebalan tubuh bayi dan anak sehingga mampu melawan penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin tersebut. Anak yang telah diimunisasi bila terinfeksi oleh kuman tersebut maka tidak akan menularkan ke adik, kakak, atau teman-teman disekitarnya. Jadi, imunisasi selain bermanfaat untuk diri sendiri juga bermanfaat untuk mencegah penyebaran ke adik, kakak dan anak-anak lain disekitarnya.

Bahaya kalau tidak diimunisasi
Kalau anak tidak diberikan imunisasi dasar lengkap, maka tubuhnya tidak mempunyai kekebalan yang spesifik terhadap penyakit tersebut. Bila kuman berbahaya yang masuk cukup banyak maka tubuhnya tidak mampu melawan kuman tersebut sehingga bisa menyebabkan sakit berat, cacat atau meninggal.
Anak yang tidak diimunisasi  akan menyebarkan kuman-kuman tersebut ke adik, kakak dan teman lain disekitarnya sehingga dapat menimbulkan wabah yang menyebar kemana-mana menyebabkan cacat atau kematian lebih banyak.
Oleh karena itu, bila orangtua tidak mau anaknya diimunisasi berarti bisa membahayakan keselamatan anaknya dan anak-anak lain disekitarnya, karena mudah tertular penyakit berbahaya yang dapat menimbulkan sakit berat, cacat atau kematian.

Penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan Imunisasi
Imunisasi yang sudah disediakan oleh pemerintah untuk imunisasi rutin meliputi : Hepatitis B, Polio, BCG, DPT, Campak dan vaksin untuk jemaah haji. Imunisasi yang belum disediakan oleh pemerintah antara lain : Hib, Pneumokokus, Influenza, Demam Tifoid, MMR, Cacar air, Hepatitis A dan Kanker Leher Rahim (HPV).
Imunisasi  Hepatitis B untuk mencegah  virus Hepatitis B yang dapat menyerang dan merusak hati, bila berlangsung sampai dewasa dapat menjadi kanker hati. Imunisasi Polio untuk mencegah serangan virus polio yang sapat menyebabkan kelumpuhan. Imunisasi BCG untuk mencegah tuberkulosis paru, kelenjar, tulang dan radang otak yang bisa menimbulkan kematian atau kecacatan.  
Imunisasi DPT untuk mencegah 3 penyakit : Difteri, Pertusis dan Tetanus. Penyakit Difteri dapat menyebabkan pembengkakan dan sumbatan jalan nafas, serta mengeluarkan racun yang dapat melumpuhkan otot jantung. Penyakit Pertusis berat dapat menyebabkan infeksi saluran nafas berat (pneumonia). Kuman Tetanus mengeluarkan racun yang menyerang syaraf otot tubuh, sehingga otot menjadi kaku, sulit bergerak dan bernafas. Penyakit campak berat dapat mengakibatkan radang paru berat (pneumonia), diare atau  menyerang otak. 
Imunisasi Hib dan Pneumokokus dapat mencegah infeksi saluran nafas berat (pneumonia) dan radang otak (meningitis). Imunisasi influenza dapat mencegah influenza berat.  Imunisasi demam tifoid dapat mencegah penyakit demam tifoid berat. Imunisasi MMR dapat mencegah penyakit : Mumps (gondongan, radang buah zakar), Morbili (campak) dan Rubela (campak Jerman). Imunisasi cacar air (varisela) untuk mencegah penyakit cacar air. Imunisasi Hepatitis A untuk mencegah radang hati karena virus hepatitis A. Imunisasi HPV untuk mencegah kanker leher rahim.
Bila bayi / anak tidak diimunisasi  maka risikonya lebih besar tertular penyakit – penyakit tersebut.

Setelah diimunisasi kadang-kadang timbul kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI)
Setelah imunisasi kadang-kadang timbul kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) demam ringan sampai tinggi, bengkak, kemerahan, agak rewel. Itu adalah reaksi yang umum terjadi setelah imunisasi. Umumnya akan hilang dalam 3-4 hari, walaupun kadang-kadang ada yang berlangsung lebih lama.
Boleh diberikan obat penurun panas tiap 4 jam, dikompres air hangat, pakaian tipis, jangan diselimuti, sering minum ASI, jus buah atau susu. Bila tidak ada perbaikan, atau bertambah berat segera kontrol ke dokter.

Berita kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) harus di konfirmasi oleh ahlinya
Adanya berita di media masa tentang kejadian ikutan pasca imunisasi yang berat, perlu dikonfirmasi kepada ahli-ahli di bidangnya. Contoh kasus Sinta Bela (SB) yang menurut orangtuanya lumpuh setelah diimunisasi, dilakukan sidang di Polda Metro Jaya.
Berdasarkan pemeriksaan oleh dokter-dokter ahli dibidangnya, dari foto tulang belakang terbukti kelumpuhannya karena tuberkulosis di tulang belakang yang sudah berlangsung lama, bukan karena imunisasi.
Ketika wabah polio di Jawa Barat, beberapa anak lumpuh setelah mendapat vaksin polio. Dengan pemeriksaan virus (virologi) terbukti bahwa kelumpuhan tersebut diakibatkan virus polio liar yang sudah menyerang anak tersebut sebelum ia mendapat imunisasi polio.
Autisme yang dulu diduga akibat merkuri atau vaksinasi MMR, ternyata berbagai lembaga penelitian resmi di luar negeri menyatakan tidak ada hubungan MMR dengan autisme atau kandungan merkuri di dalam tubuhnya  ternyata tidak tinggi 
Beberapa KIPI berat lain, setelah diperiksa oleh ahli-ahli di bidangnya terbukti bahwa KIPI tersebut akibat penyakit lain yang sudah ada sebelumnya, bukan oleh imunisasi.
Oleh karena itu setiap berita KIPI harus di kaji secara ilmiah oleh  ahli-ahlinya, antara lain di Komisariat Daerah (Komda) KIPI yang ada di Propinsi atau Komisariat Nasional (Komnas) KIPI di Jakarta.

Lebih banyak kecelakaan lalu lintas daripada KIPI berat
Sangat jarang terjadi KIPI berat. Kemungkinan KIPI berat 1 kejadian dalam: 2 juta dosis. Kalau ada 22 juta balita, kemungkinan terjadinya KIPI berat sekitar 11 anak.
Lebih banyak korban kecelakaan lalu lintas akibat sepeda motor, bus, mobil, pesawat terbang dibanding KIPI berat  karena imunisasi. Oleh karena itu masyarakat harusnya lebih takut pada kecelakaan lalu lintas ketimbang karena imunisasi.

Setelah diimunisasi masih bisa terkena penyakit, tetapi jauh lebih ringan
Perlindungan imunisasi memang tidak 100 %,  artinya setelah diimunisasi, bayi dan anak masih bisa terkena penyakit-penyakit tersebut, tetapi kemungkinannya hanya kecil (5 – 15 %),  jauh lebih ringan dan tidak berbahaya. Bukan berarti imunisasi itu gagal atau tidak berguna, karena perlindungan imunisasi memang sekitar 80 – 95 %.
Penelitian epidemiologi di  Indonesia dan negara-negara lain, ketika ada wabah campak, difteri atau polio, anak yang sudah mendapat imunisasi dasar lengkap sangat jarang yang tertular, bila tertular umumnya hanya ringan, sebentar dan tidak berbahaya.
Tetapi anak yang  tidak mendapat imunisasi, ketika ada wabah,  lebih banyak yang sakit berat, meninggal atau cacat. Berarti imunisasi terbukti effektif mencegah sakit berat, kematian atau cacat akibat penyakit-penyakit tersebut.

Imunisasi, ASI dan perbaikan lingkungan bersama-sama lebih effektif mencegah penyakit dan kematian
Pemberian ASI, perbaikan gizi dan lingkungan memang turut membantu menurunkan angka kematian akibat penyakit-penyakit tersebut. Tetapi perbaikan gizi dan lingkungan membutuhkan waktu yang lebih lama dan usaha yang lebih sulit dibanding imunisasi. Dengan imunisasi dasar  lengkap angka kematian bayi lebih cepat turun.
Oleh karena itu dengan imunisasi dasar lengkap, ASI dan perbaikan lingkungan bersama-sama akan lebih effektif mencegah penyakit dan menurunkan angka kematian bayi dan balita.

Vaksin terbukti aman, effektif  sehingga dipakai lebih 100 negara
Vaksin yang digunakan untuk program imunisasi di Indonesia dibuat  oleh PT Bio Farma Bandung yang sudah berdiri sejak jaman Belanda dan  telah puluhan tahun memproduksi vaksin.
Merkuri (tiomersal, timerosal) dalam jumlah yang sangat sedikit perlu untuk mengawetkan vaksin agar kualitasnya tetap baik. Karena jumlahnya sangat sedikit, maka masih jauh dari ambang batas yang berbahaya, yang ditentukan oleh berbagai ahli-ahli di badan-badan pengawasan internasional. Tidak ada larangan penggunaan merkuri dalam vaksin asal jumlahnya sesuai dengan ketentuan internasional tersebut.
Kualitas vaksin PT Bio Farma selalu diawasi oleh badan internasional WHO dan dinyatakan aman serta effektif untuk digunakan di seluruh dunia. Oleh karena itu vaksin Pt Bio Farma digunakan oleh Unicef untuk lebih  dari 100  negara di dunia antara lain di ekspor ke  : Malaysia, Pakistan, Bangladesh, Mesir, Iran, Jordania, Lebanon, Afganistan, Turki, Libya, Kuwait, Syria, Nigeria, India, Filipina, Vietnam, Kambodja, Korea, China dll.
Hampir semua bayi di seluruh dunia diimunisasi setiap tahun
Sampai saat ini menurut data WHO sekitar 194 negera maju maupun sedang berkembang tetap melakukan imuniasi rutin pada bayi dan balitanya. Di Eropa imunisasi rutin dilakukan di 43 negara, Amerika 37 negara,  Australia dan sekitarnya 16 negara, Afrika di 53 negara, Asia 48 negara, ( sumber : www.devinfo.info/immunization).
Negara maju dengan tingkat gizi dan lingkungan yang baik tetap melakukan imunisasi rutin pada semua bayinya, karena terbukti bermanfaat untuk bayi yang diimunisasi dan mencegah penyebaran ke anak di sekitarnya. 
Setiap tahun sekitar 85 -95 % bayi di negara-negara tersebut mendapat imunisasi rutin, sedangkan sisanya belum terjangkau imunisasi karena menderita penyakit tertentu,  sulitnya akses terhadap layanan imunisasi, hambatan jarak, geografis, keamanan, sosial- ekonomi dan lain-lain.

Bayi yang belum imunisasi lengkap rawan  sakit berat dan menjadi sumber penularan
Bayi –bayi di Indonesia yang di imunisasi setiap tahun sekitar 90 % dari sekitar 4,5 juta bayi yang lahir. Hal itu karena masih ada hambatan geografis, jarak, jangkauan layanan, transportasi, ekonomi dll. Artinya setiap tahun ada 10 % bayi (sekitar 450.000 bayi) yang  belum mendapat imunisasi, sehingga  dalam 5 tahun menjadi  2 juta anak yang belum mendapat imunisai dasar lengkap.
Bila terjadi wabah, maka 2 juta balita yang belum mendapat imunisasi dasar lengkap akan mudah tertular penyakit berbahaya tersebut, akan sakit berat, meninggal atau cacat. Selain itu mereka  dapat menyebarkan penyakit tersebut kemana-mana bahkan sampai ke negara lain, seperti kasus polio yang sangat merepotkan dan menghebohkan seluruh dunia.

Oleh karena itu marilah kita bersama-sama mengajak tetangga, saudara dan kenalan untuk melengkapi imunisasi dasar bayi kita, agar terhindar dari sakit berat, kematian atau cacat, dan mencegah penularan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi yang lebih luas kepada anak-anak lain.
             
Dr. Soedjatmiko, SpA(K), MSi
Sekretaris Satgas Imunisasi
Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia

Kamis, 15 Desember 2011

PELATIHAN SISTEM KEWASPADAAN DINI (SKD) DAN RESPON PENYAKIT POTENSIAL KLB BAGI PETUGAS SURVEILANS PUSKESMAS SE-KABUPATEN KEBUMEN TAHUN 2011

Pendahuluan
Kita ketahui bersama bahwa Indonesia merupakan salah satu anggota dari organisasi Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) yang selalu mendukung kebijakan dari organisasi tersebut apabila tidak bertentangan dengan kebijakan nasional maupun internasionalnya. Indonesia yang telah meratifikaskasi IHR (International Health Regulation) tahun 2005 mau tidak mau harus mengikuti dan menjalankan aturan tersebut. WHO telah menyatakan bahwa IHR 2005 mulai diimplementasikan pada 15 Juni 2007 tetapi kepada seluruh negara masih diberikan waktu selama 5 tahun hal ini sesuai dengan IHR, Bab II, Pasal 5, ayat 1 dinyatakan bahwa suatu Negara harus mengembangkan, memperkuat, dan memelihara kemampuan untuk mendeteksi, menilai, dan melaporkan kejadian sebagaimana ditetapkan dalamLampiran 1 IHR (Kapasitas Inti Bidang Surveilans Dan Respons Yang Harus Dipenuhi), sedini mungkin dan paling lambat lima tahun sejak diberlakukannya IHR.
Disamping itu Indonesia juga merupakan negara yang selalu komit terhadap komitmen global seperti eradikasi polio, eliminasi TN, reduksi maupun eliminasi campak, eliminasi malaria, pengendalian HIV/AIDS maupun TB Paru. Untuk eradikasi polio, Indonesia mengalami KLB Polio tahun 2005 dengan jumlah sebanyak 349 kasus (termasuk 46 kasus VDVP tipe 1) dan dapat ditanganidengan baik untukmemutus mata rantai penularan melalui PIN sehingga sampai saat ini tidak ditemukan kembali virus polio. Untuk menjaring kasus polio maka surveilans AFP yang optimal juga sangat berperan penting.
Dalam era globalisasi ini mobilisasi manusia maupun barang sudah sangat tinggi dan sangat cepat. Tetapi kondisi ini juga dapat dilihat sebagai sebuah ancaman misalnya transmisi penyakit menular dari suatu negara kenegara lain. Salah satu contoh adalah KLB Polio di Indonesia tahun 2005 terjadi karena ada import virus polio dari negara lain. Selain itu saat ini dunia telah mengalami perubahan iklim yang disebabkan oleh pemanasan global yang semakin cepat. Kondisi ini juga akan mempengaruhi pola dan jenis penyaki tpotensial wabah secara langsung maupun tidak langsung misalnya seperti  malaria, DBD, maupun penyakit new emerging seperti flu burung.
Indonesia yang letaknya strategis secara geografis masih memiliki beberapa penyakit potensial KLB seperti malaria, DBD, diare, kolera, difteri, antrax, rabies, campak, pertusis, maupun ancaman flu burung pada manusia. Penyakit-penyakit tersebut apabilatidak dipantau dan dikendalikan maka akan mengancam kesehatan masyarakat Indonesia dan menyebabkan KLB yang lebih besar atau bahkan dapat menyebar kenegara tetangga lainnya.
Selama ini sebagian besar kabupaten di Indonesia telah melaksanakan Sistem Kewaspadaan Dini KLB, namun dalam pelaksanaannya masih banyak kelemahan seperti diantaranya KLB sering terlambat diketahui. Salah satu sebab KLB terlambat diketahui oleh jajaran kesehatan khususunya Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota adalahd alam mengolah data PWS Mingguannya menggunakan metode yang belum efisien misalnya penyakit yang dipantau relative sedikit, pelaporan data mingguan dari puskesmas keDinas Kabupaten/Kota menggunakan hardcopy dan mengirimkan melalui jasa posm aupun titip ke petugas yang akan pergi ke Kabupaten/Kota, belumlagi laporant ersebut tidak sampai ke penanggung jawab program karena hilang, tercecer, sering terlambat dan mengolah data tidak menggunakan perangkat lunak terintegrasi.
Laporan mingguan (W2) sudah lama berjalan di Indonesia. Laporan ini digunakan oleh Puskesmas maupun Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota untuk melakukan PWS (Pemantauan Wilayah Setempat) khususnya penyakit menular berpotensi KLB. Dengan menjalankan sistem ini secara optimal maka unit surveilans baik di Puskesmas dan Dinkes Kabupaten/ Kota dapat melihat tren penyakit menular periode mingguan sehingga dapat menilai apakah pada minggu tersebut terjadi peningkatan kasus yang mengarah ke KLB atau tidak dan mendorong petugas surveilans untuk segera melakukan respons cepat atau penyelidikan epidemiologi awal.
Sejak pertengahan 2009, Kementrian Kesehatan khususnya Subdit Surveilans dan Respons KLB (Ditjen PP dan PL) telah melakukan optimalisasi PWS KLB melalui EWARS (Early Warning Alert and Response System) untuk puskesmas dengan propinsi pilot Lampung dan Bali. Dalam sistem ini metode pelaporan di tingkat pustu, bidan desa, maupun puskesmas menggunakan SMS dengan maksud agar laporan mingguan dapat dikirim secepat mungkin dan tepat waktu. Sedangkan pengiriman data secara elektronik (e-mail) dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota dan Provinsi. Untuk efektifitas dan efisiensi kompilasi data dan analisis tingkat kabupaten, Provinsi dan pusat yaitu dengan menggunakan software khusus yang dapat menghasilkan peringatan dini (sinyal kewaspadaan) menurut tempat, waktu dan jenis penyakitnya. Dari hasil pilot tersebut menunjukan peningkatan kinerja SKD dan Respons di propinsi tersebut dan terukur hasilnya. Sampai 2011 ini jumlah propinsi yang telah menjalankan sistem ini berjumlah 6 propinsi dan 4 Provinsi masih dalam tahap persiapan dan pelatihan. Propinsi Jawa Tengah merupakan salah satu propinsi dari 4 propinsi yang dipersiapkan untuk menjalankan sistem ini pada tahun 2011 termasuk Kabupaten Kebumen.
Tujuan Umum
Terlaksananya Sistem EWAR/ Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons secara optimal di Kabupaten Kebumen mulai akhir tahun 2011/ awal tahun 2012.
Tujuan Khusus
1.    Terlaksananya Pelatihan Sitem Kewaspadaan Dini (SKD) dan Respon Penyakit Potensial KLB bagi petugas Surveilans Puskesmas se-Kabupaten Kebumen
2.    Berjalannya sistem EWAR di Kabupaten Kebumen mulai akhir tahun 2011.

Metode
Untuk Pelatihan Sitem Kewaspadaan Dini (SKD) dan Respon Penyakit Potensial KLB bagi petugas Surveilans Puskesmas dilakukan melalui pemaparan definisi operasional penyakit yang diamati serta praktek pengiriman laporan melalui SMS.
Tempat dan Waktu
Pelatihan Sitem Kewaspadaan Dini (SKD) dan Respon Penyakit Potensial KLB bagi petugas Surveilans Puskesmas Se-Kabupaten Kebumen dilaksanakan di Ruang Puring Hotel Candisari Karanganyar, Jl. Raya Karanganyar Km. 2 Karanganyar Kebumen pada tanggal 15 Desember 2011 .
Sasaran
Pelatihan Sitem Kewaspadaan Dini (SKD) dan Respon Penyakit Potensial KLB bagi petugas Surveilans Puskesmas sasarannya adalah Petugas Surveilans Puskesmas se-Kabupaten Kebumen

Biaya dan Sumber Dana.
Kegiatan ini sepenuhnya dibiayai oleh Dana BLN WHO Tahun 2011.

Senin, 12 September 2011

Imunisasi tambahan Campak dan Polio untuk semua bayi dan balita 18 Oktober – 18 November 2011

Latar Belakang
Penyakit Campak dan Polio mudah menyerang bayi dan balita.Penyakit Campak berat dapat mengakibatkan kematian, karena dapat menyebabkan radang paru, diare dan radang otak. Penyakit Polio dapat menyebabkan kelumpuhan dan cacat seumur hidup karena virus polio menyerang inti syaraf di tulang belakang dan otak. Oleh karena itu penyakit Campak dan Colio harus dicegah, antara lain dengan pemberian ASI eksklusif, makanan tambahan sesuai umur, kebersihan badan dan lingkungan, serta imunisasi Campak dan Polio.


Imunisasi tambahan Campak dan Polio
Untuk itu Kementerian Kesehatan akan mengadakan imunisasi tambahan Campak dan Polio untuk semua bayi dan balita pada tanggal 18 Oktober – 18 November 2011, di 17 propinsi :  Lampung, Jawa Barat, DKI Jakarta,  Jawa Tengah,  Jawa Timur,  Kalbar, Kalteng, Kalsel, Kaltim, Sulsel, Sulteng, Sultra, Sulbar, Sulbar, Gorontalo, NTB dan Papua.


Sasaran Imunisasi tambahan Campak dan Polio
  • Imunisasi POLIO untuk semua bayi dan balita berumur 0 – 59 bulan dan
  • Imunisasi CAMPAK untuk semua bayi dan balita berumur 9 – 59 bulan. Tidak memandang status imunisasi. Walaupun  telah mendapat imunisasi lengkap, semua bayi dan balita harus mendapat imunisasi tambahan campak dan polio tersebut.
Waktu Pemberian Imunisasi tambahan Campak dan Polio
Vaksin campak disuntikan di lengan atau paha atas, vaksin polio diteteskan di mulut. Imunisasi tambahan tersebut akan dilakukan di pos imunisasi / posyandu, Puskesmas, praktek bidan, dokter, klinik atau rumah sakit yang akan ditentukan oleh Dinas Kesehatan  setempat pada tanggal 18 Oktober – 18 November 2011
Bulan berikutnya : dilanjutkan dengan imunisasi rutin sesuai jadwal


Hal-hal yang perlu diperhatikan:
  • Walaupun sedang batuk pilek ringan, mencret sedikit, sakit kulit, tanpa demam, tidak rewel,  bayi dan balita boleh diimunisasi .
  • Setelah imunisasi polio boleh segera diberikan ASI. Bila muntah boleh diberi tambahan vaksin polio.
  • Setelah imunisasi campak dan polio kadang-kadang  timbul  nyeri dan merah di tempat suntikan, demam, bintik-bintik  merah dikulit, mencret sedikit,  hal itu adalah reaksi normal, tidak berbahaya.
  • Jika demam atau nyeri boleh diberikan obat penurun panas atau penghilang  nyeri.
  • Jika kulit timbul bintik-bintik merah boleh diberi bedak.
  • Jika batuk, pilek, mencret boleh diberikan obat batuk pilek, mencret.
  • Bila ada masalah lain  segera hubungi petugas kesehatan terdekat.


Sumber/Materi
dr. Cornelia (Nellie)
Staf Subdit Imunisasi Kemkes RI

Selasa, 05 Juli 2011

Calon Jemaah Haji dari Wilayah Puskesmas Sruweng Kab. Kebumen Th 2011

No Nama Calon NmAyahKndg TempatLahir TglLahir Umur Jk KWN Rt Rw Desa PKM
1 ERYANI RAHMIYATI SOEROSO Kebumen 22/01/1972 36 Wanita Indonesia 02 04 Sruweng Sruweng
2 SODIMAN BADRONI Kebumen 02/04/1971 37 Pria Indonesia 02 03 Pakuran Sruweng
3 SITI ROMELAH SIPAN Kebumen 13/06/1971 38 Wanita Indonesia 01 03 Karangsari Sruweng
4 SALAMUN MOHAMAD SUPANI Kebumen 12/12/1965 44 Pria Indonesia 01 03 Karangpule Sruweng
5 EDWI SUYANIS SH SUKADI Purworejo 07/05/1964 45 Pria Indonesia 02 01 Kejawang Sruweng
6 WAKIJIN MUHAMAD SIROD MUHAMAD SIROD Kebumen 23/05/1947 62 Pria Indonesia 04 01 Pengempon Sruweng
7 SITI BARYATUN JAMIDIN Kebumen 24/11/1980 29 Wanita Indonesia 02 03 Pakuran Sruweng
8 SOLIKHIN MAD SURYAN Kebumen 12/05/1945 64 Pria Indonesia 02 03 Pakuran Sruweng
9 SRI WURYANINGSIH SUKEMI PURWODARMOJO Kebumen 15/02/1955 54 Wanita Indonesia 02 01 Jabres Sruweng
10 SOPIYAH MOHAMAD IHSAN Kebumen 12/12/1954 55 Wanita Indonesia 02 01 Kl;epusanggar Sruweng
11 MUNTAHYATI MAD SARIKI Kebumen 05/07/1950 59 Wanita Indonesia 02 03 Pakuran Sruweng
12 RATIYAH MAD KUSEN Kebumen 10/07/1940 69 Wanita Indonesia 03 03 Pakuran Sruweng
13 AHMAD TAMYIZ DARMUJI Kebumen 15/12/1955 54 Pria Indonesia 03 02 Pakuran Sruweng
14 AGUS IRFANGI AMAD DASRI Purworejo 30/12/1959 50 Pria Indonesia 01 04 Giwangretno Sruweng
15 KUSRIYATI DUL JALIL Kebumen 09/09/1960 49 Wanita Indonesia 01 04 Giwangretno Sruweng
16 MIFTAHUL FALAKH SONHAJI SONHAJI H Kebumen 05/05/1971 38 Pria Indonesia 02 05 Giwangretno Sruweng
17 BINTI NAFINGATUN MUGHNI ROSIDIN H Kebumen 16/11/1977 32 Wanita Indonesia 02 05 Giwangretno Sruweng
18 WALIMAN MAD MUSA Kebumen 25/01/1963 46 Pria Indonesia 01 02 Trikarso Sruweng
19 SITI ASIYAH S.PD DULAH MUKTI Kebumen 24/08/1966 43 Wanita Indonesia 01 02 Trikarso Sruweng
20 DAHLAN DULHADI Kebumen 10/04/1972 37 Pria Indonesia 03 05 Menganti Sruweng
21 SATINAH SANASMAD Kebumen 31/12/1946 63 Wanita Indonesia 02 05 Menganti Sruweng
22 SANMULYA MURAWI Kebumen 02/11/1940 69 Pria Indonesia 03 01 Pandansari Sruweng
23 WIRADATIEK SASTRO KADJAT Padang 23/10/1945 64 Wanita Indonesia 02 01 Karanggedang Sruweng
24 MOKHAMAD SUJARI MUHAMAD TAEFUR Kebumen 09/08/1938 71 Pria Indonesia 01 01 Sruweng Sruweng
25 SITI MAHMUDAH NGALI H Kebumen 23/03/1954 55 Wanita Indonesia 01 01 Sruweng Sruweng
26 SITI BADINGAH MUHAMAD DURJANI Kebumen 11/09/1943 66 Wanita Indonesia 03 02 Sidoharjo Sruweng
27 THORIKUN MUHAMAD IRSYAD Kebumen 10/06/1941 68 Pria Indonesia 03 02 Sidoharjo Sruweng
28 SADUN SANMIHARJO SANDINAMA Kebumen 31/12/1947 62 Pria Indonesia 04 04 Trikarso Sruweng
29 SITI MARFUNGATUN MAESAROH Kebumen 10/10/1963 46 Wanita Indonesia 02 02 Sruweng Sruweng
30 SRI AGUS WAHYONO SUPARMAN H Kebumen 27/08/1962 47 Pria Indonesia 02 02 Sruweng Sruweng
31 DULAH NGUSMAN MAD SURAT Kebumen 16/01/1934 75 Pria Indonesia 06 01 Trikarso Sruweng
32 SUMYATI DULAH KANAN Kebumen 06/03/1938 71 Wanita Indonesia 06 01 Trikarso Sruweng
33 PARINAH WANGSA WITANA Kebumen 31/12/1937 72 Wanita Indonesia 03 02 Sruweng Sruweng
34 MUJIATI MOCHAMAD DARNUJI Kebumen 15/05/1963 46 Wanita Indonesia 02 02 Sruweng Sruweng
35 MUHADI SANIHWAN Kebumen 30/11/1950 59 Pria Indonesia 05 01 Trikarso Sruweng
36 SUMADI PARTO UTOMO Kebumen 30/03/1944 65 Pria Indonesia 02 02 Jabres Sruweng
37 WAHRUDIN JAMHARI H Kebumen 03/05/1957 52 Pria Indonesia 01 03 Giwangretno Sruweng
38 KUSRIYAH KHALIMI Kebumen 15/06/1960 49 Wanita Indonesia 01 03 Giwangretno Sruweng
39 PARWATI KHUSNI Kebumen 24/07/1960 49 Wanita Indonesia 01 02 Giwangretno Sruweng
40 MOKHAMAD KHAMDANI SYARIP H Kebumen 20/12/1964 45 Pria Indonesia 05 02 Trikarso Sruweng
41 KUSIYAH AHMAD RUSLAN Kebumen 12/01/1952 57 Wanita Indonesia 06 01 Trikarso Sruweng
42 MUHAMAD MARJUKI MOHAMAD HELANI Kebumen 07/04/1949 60 Pria Indonesia 06 01 Trikarso Sruweng
43 SARINAH TARJA Kebumen 31/08/1944 65 Wanita Indonesia 02 02 Purwodeso Sruweng
44 SANPARJO TRASENTIKA Kebumen 12/12/1942 67 Pria Indonesia 02 02 Purwodeso Sruweng
45 YUFTRI UTAMI YUSUP SUBAGYONO Kebumen 20/08/1979 30 Wanita Indonesia 02 01 Sruweng Sruweng