Tampilkan postingan dengan label Penyehatan Lingkungan dan Kualitas Air. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penyehatan Lingkungan dan Kualitas Air. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 April 2012

Sanitasi Perkotaan Berbasis Masyarakat

Latar Belakang 

Program Sanitasi Perkotaan Berbasis Masyarakat (SPBM) merupakan salah satu komponen Program Urban Sanitation and Rural Infrastructure (USRI) yang diselenggarakan sebagai program pendukung PNPM-Mandiri. Program ini bertujuan untuk menciptakan dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat, baik secara individu maupun kelompok untuk turut berpartisipasi memecahkan berbagai permasalahan yang terkait pada upaya peningkatan kualitas kehidupan, kemandirian dan kesejahteraan masyarakat. 

 

Mekanisme penyelenggaraan Program Perkotaan Berbasis Masyarakat (SPBM) menerapkan pendekatan pembangunan berkelanjutan berbasis masyarakat melalui pelibatan masyarakat secara utuh dalam seluruh tahapan kegiatan, mulai dari pengorganisasian masyarakat, perencanaan, pelaksanaan, pengawasan program sampai dengan upaya keberlanjutan, khususnya dalam hal peningkatan kualitas prasarana dan sarana sanitasi  berbasis masyarakat dalam rangka mendukung upaya pencapaian target MDG pada 2015, yaitu menurunkan sebesar separuh dari proporsi penduduk yang belum memiliki akses sanitasi  dasar serta sasaran RPJMN 2010-2014 dalam bidang sanitasi yaitu stop Buang Air Besar Sembarangan (BABS) dan peningkatan layanan pengelolaan air limbah. 

 

Program SPBM ini dilaksanakan secara bertahap di 1350 kelurahan yang berada di 34 kabupaten/kota di 5 provinsi terpilih yang sebelumnya menjadi lokasi pelaksanaan program PNPM Mandiri Perkotaan (P2KP), lokasi kelurahan tersebut telah menerima dana BLM sebanyak 3 kali siklus. Hal ini merupakan perwujudan dari sinergi diantara program pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah. Pada pelaksanaan nantinya program ini  akan menggunakan lembaga masyarakat (BKM/LKM) yang sudah ada dan mempunyai rekam jejak dan kinerja yang baik dalam mengelola program pemberdayaan masyarakat. 

 

Melalui pelaksanaan Program SPBM ini masyarakat akan merencanakan program, memilih jenis prasarana/sarana sanitasi komunal yang sesuai dengan kebutuhan, menyusun rencana kerja, melakukan pembangunan konstruksi serta mengelola dan melestarikan hasil pembangunan.

 

Maksud  

Program ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat melalui penyediaan sarana sanitasi komunal berbasis masyarakat khususnya bagi kaum perempuan, kelompok rentan/marjinal dan penduduk miskin.

 

Tujuan 

Tujuan Program SPBM adalah: 

·     Meningkatnya kesadaran sanitasi dan promosi praktik hidup bersih dan sehat masyarakat. 

·     Meningkatnya kapasitas masyarakat dan lembaga masyarakat dalam perencanaan dan pembangunan layanan sanitasi yang berkelanjutan. 

·     Tersedianya sistem sanitasi komunal yang berkualitas, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masyarakat.  

 

Sasaran 

Sasaran Program SPBM adalah:

  • Meningkatnya kesadaran sanitasi dan promosi praktik hidup bersih dan sehat melalui kegiatan kampanye Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS);
  • Tersedianya sarana dan prasarana penyehatan lingkungan permukiman (sanitasi komunal)  yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masyarakat, berkualitas, berkelanjutan, serta berwawasan lingkungan;
  • Meningkatnya kemampuan masyarakat dalam penyelenggaraan prasarana/sarana penyehatan lingkungan permukiman (sanitasi komunal) secara partisipatif, transparan, dapat dipertanggungjawabkan dan berkelanjutan;
  • Tersusunnya Rencana Aksi Perbaikan Sanitasi (Community Sanitation Improvement Action Plan/CSIAP) yang responsif kepada upaya peningkatan kualitas sanitasi  masyarakat;
  • Meningkatnya kemampuan perangkat pemerintah daerah sebagai fasilitator pembangunan khususnya di sektor penyehatan lingkungan permukiman;

 

Ruang Lingkup

Ruang Lingkup Program SPBM adalah:
  • Penyediaan prasarana/sarana sanitasi masyarakat meliputi: (i) fasilitas MCK komunal dan (ii) instalasi pengolahan air limbah (IPAL) komunal;
  • Peningkatan kapasitas masyarakat dan pemerintah daerah dalam hal perencanaan dan pembangunan khususnya terkait dengan  upaya penyehatan lingkungan permukiman berbasis masyarakat. 
  • Kegiatan penyehatan lingkungan permukiman melalui penyediaan sistem sanitasi komunal berbasis masyarakat dilaksanakan secara terpadu, mengacu pada Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RIPJM), Strategi Sanitasi Kota/Kabupaten (SSK), PJM Pronangkis (Medium Term Poverty Reduction Plan/MTPRP) dan Rencana Aksi Perbaikan Sanitasi (Community Sanitation Improvement Action Plan/CSIAP) yang telah disusun.

 

Prinsip dan Pendekatan

 

Prinsip 

Prinsip dasar  Program SPBM adalah:

  • Tanggap kebutuhan, masyarakat yang layak mengikuti program akan bersaing mendapatkan program dengan cara menunjukkan komitmen serta kesiapan untuk melaksanakan sistem sesuai dengan pilihannya.
  • Pengambilan keputusan berada sepenuhnya ditangan masyarakat, peran pemerintah dan konsultan pendamping hanya sebatas sebagai fasilitator.
  • Masyarakat menentukan, merencanakan, membangun dan mengelola sistem yang mereka pilih sendiri, dengan difasilitasi oleh konsultan pendamping yang mempunyai pengalaman dalam bidang teknologi pengolahan limbah dan pendampingan sosial.
  • Pemerintah berperan memfasilitasi inisiatif kelompok masyarakat, bukan sebagai pengelola sarana. 

Prinsip  penyelenggaraan Program SPBM adalah:
  • Dapat diterima; Pemilihan kegiatan dilakukan berdasarkan musyawarah kelurahan sehingga didukung dan diterima oleh masyarakat. Hal ini berlaku mulai dari saat pemilihan lokasi dan penentuan solusi teknis (jenis prasarana/sarana dan pilihan teknologi yang digunakan), penentuan mekanisme pelaksanaan kegiatan dan pengadaan, serta penetapan mekanisme pengelolaan dan pemeliharaan prasarana dan sarana sanitasi  masyarakat.
  • Transparan; Penyelenggaraan kegiatan dilakukan secara terbuka dan diketahui oleh semua unsur masyarakat dan perangkat pemerintah daerah sehingga memungkinkan terjadinya pengawasan dan evaluasi oleh semua pihak.
  • Dapat dipertanggungjawabkan; Penyelenggaraan kegiatan harus dapat dipertanggungjawabkan kepada seluruh masyarakat.
  • Berkelanjutan; Penyelenggaraan kegiatan harus dapat memberikan manfaat kepada masyarakat secara berkelanjutan yang ditandai dengan adanya pemanfaatan, pemeliharaan dan pengelolaan sarana secara mandiri oleh masyarakat pengguna.
  • Kerangka Jangka Menengah; Penyelenggaraan dilaksanakan pada kerangka jangka menengah sebagai dasar upaya peningkatan akses terhadap pelayanan prasarana dan sarana sanitasi bagi penduduk miskin, kaum perempuan dan kelompok rentan/ marjinal.
  • Sederhana, Tata cara, mekanisme dan prosedur dalam pelaksanaan kegiatan bersifat sederhana, mudah dipahami dan mudah dilaksanakan oleh seluruh stakeholder

 

Pendekatan 

Program SPBM merupakan program pembangunan prasarana dan sarana sanitasi, dengan pendekatan:

  • Pemberdayaan Masyarakat, artinya seluruh proses implementasi kegiatan (tahap persiapan, perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan pemeliharaan) melibatkan partisipasi aktif masyarakat berdasarkan kesamaan kepentingan dan kebutuhan;
  • Keberpihakan kepada penduduk miskin, kaum perempuan dan kelompok rentan/marjinal, artinya orientasi kegiatan baik dalam proses maupun pemanfaatan hasil kegiatan ditujukan kepada kaum perempuan, kelompok rentan/marjinal dan penduduk miskin/masyarakat berpenghasilan rendah;
  • Otonomi dan desentralisasi, artinya pemerintah daerah dan masyarakat bertanggungjawab penuh pada penyelenggaraan program dan keberlanjutan prasarana/sarana  terbangun;
  • Partisipatif, artinya masyarakat terlibat secara aktif dalam kegiatan mulai dari proses perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, pemeliharaan  dan pemanfaatan, dengan memberikan kesempatan secara luas partisipasi aktif dari perempuan, kelompok rentan/marjinal dan penduduk miskin;
  • Keswadayaan, artinya masyarakat menjadi faktor utama dalam keberhasilan pelaksanaan kegiatan, melalui keterlibatan dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan kegiatan serta pemeliharaan hasil kegiatan;
  • Keterpaduan program pembangunan, artinya program yang dilaksanakan memiliki sinergi dengan program pembangunan yang lain.
  • Penguatan Kapasitas Kelembagaan, artinya pelaksanaan kegiatan diupayakan dapat meningkatkan kapasitas pemerintah, lembaga masyarakat dan stakeholder lainnya dalam pelaksanaan pembangunan penyehatan lingkungan permukiman.
  • Kesetaraan dan keadilan gender, artinya terdapat kesetaraan antara kaum pria dan dan perempuan dalam setiap tahap pembangunan dan dalam pemanfaatan hasil kegiatan pembangunan secara adil.

Diseminasi Sanitasi Perkotaan Berbasis Masyarakat (SPBM) Tingkat Jawa Tengah




Sanitasi yang memadai merupakan dasar dari pembangunan. Namun, fasilitas sanitasi jauh di bawah kebutuhan penduduk yang terus meningkat jumlahnya. Akibatnya, muncul berbagai jenis penyakit yang salah satu diantaranya adalah penyakit diare. Di dunia, penyakit tersebut telah menimbulkan kematian sekitar 2,2 juta anak pertahun dan menghabiskan banyak dana untuk mengatasinya (UNICEF, 1997). Minimnya sanitasi lingkungan seperti penanganan sampah, air limbah, tinja, saluran pembuangan, dan kesehatan masyarakat, telah menyebabkan terus tingginya kematian bayi dan anak oleh penyakit diare dan berperan penting dalam mengundang munculnya berbagai vektor pembawa penyakit.

Penanganan sanitasi lingkungan oleh pemerintah sampai saat ini masih menghadapi banyak kendala. Jumlah fasilitas yang ada tidak sebanding dengan pertumbuhan penduduk. Selain itu, masyarakat dibanyak wilayah masih mempraktekan perilaku hidup yang tidak sehat, seperti buang air besar di sungai yang airnya kotor, mencuci di sungai yang airnya kotor, dan membuang sampah sembarangan.
Keterkaitan dengan masalah diatas, Satker Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman(PPLP) Jawa Tengah telah mengadakan Diseminasi Sanitasi Perkotaan Berbasis Masyarakat(SPBM) tanggal 01 Maret 2012 di Hotel Gracia Semarang.
Pada kesempatan itu Kepala Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Jawa Tengah Ir HM Tamzil MT mengatakan tahun 2014 sudah tidak ada Buang Air Besar sembarangan(BABS).
Tamzil mengatakan hal itu ketika membuka Diseminasi Sanitasi Perkotaan Berbasis Masyarakat (SPBM) atau Urban Sanitation Rural Infrastructure (USRI).
Dengan adanya program ini (SPBM) bisa membuka lapangan kerja bagi para lulusan S1 untuk menjadi Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL), tambahnya.  
                                                                                
Diseminasi diikuti Kepala Bappeda, DPU,  Dinkes, dan Satker Pengembangan Infrastruktur Perkotaan (PIP) dari 18 Pemkab/Pemkot di Jawa Tengah dan dua lainnya dari DIY, yaitu Bantul dan Sleman.  
Menurut dia, program yang didanai Asian Development Bank (ADB) itu menjadi pintu masuk pembangunan sanitasi perkotaan secara partisipatif. Sebelumnya, sudah ada program PNPM Perkotaan.
Target MDGs pada Tahun 2015

Program Sanitasi Perkotaan Berbasis Masyarakat (SPBM) menarapkan pendekatan pembangunan berkelanjutan berbasis masyarakat melalui pelibatan masyarakat secara utuh dalam seluruh tahapan kegiatan, mulai dari pengorganisasian masyarakat, perencanaan, pelaksanaan, pengawasan program sampai dengan upaya berkelanjutan, khususnya dalam hal peningkatan kualitas prasarana dan sarana sanitasi berbasis masyarakat dalam rangka mendukung upaya pencapaian target MDGs pada 2015, yaitu menurunkan sebesar separuh dari proporsi penduduk yang belum memiliki akses sanitasi dasar  serta sasaran RPJM 2010-2014 dalam bidang sanitasi yaitu stop Buang Air Besar Sembarangan (BABS) dan peningkatan layanan pengelolaan air limbah.
Program tersebut tepat dilaksanakan di kota-kota padat penduduk, seperti Semarang, Solo, Pekalongan, dan Tegal. Dengan partisipasi masyarakat dan dukungan pemerintah, pihaknya optimistis program itu cepat terwujud.
Kasubdit Perencanaan Teknik Direktorat Pengembangan PLP Ditjen Cipta Karya Departemen PU yang juga  sebagai Kepala CPMU USRI Ir. Rina Agustin Indriani, MURP mengatakan, ADB memberikan dana Rp 350 juta per unit sanitasi. Kelompok masyarakat punya dua pilihan untuk merealisasikan pemanfaatan dana itu, yakni membangun IPAL dan jaringan pipa pengumpul untuk melayani 70-100 KK atau membangun MCK komunal beserta jaringannya. 

Rabu, 21 Maret 2012

Antisipasi Penyakit Yang Biasa Muncul Pada Musim Hujan



Bagaimana sebenarnya gambaran musim penghujan saat ini?

·        Indonesia saat ini sudah memasuki musim penghujan. Curah hujan tertinggi diperkirakan terjadi pada bulan Januari sampai awal Februari 2012.
·        Datangnya musim hujan merupakan faktor risiko untuk terjadinya penyakit.
·        Hal ini seperti disampaikan Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama mengenai antisipasi penyakit yang biasa muncul pada musim hujan dalam berita persnya di Jakarta, 4 Januari 2012

Penyakit apa saja yang perlu diwaspadai?
beberapa penyakit yang perlu diwaspadai selama musim penghujan adalah penyakit akibat virus, penyakit akibat bakteri dan parasit, penyakit akibat jamur, penyakit-penyakit tidak menular, serta penyakit yang disebabkan vektor.
·        Penyakit akibat virus seperti influenza dan diare; 
·        penyakit akibat bakteri dan parasit, terutama pada daerah yang airnya meluap sehingga bakteri dan parasit dari septic tank dan kotoran hewan terangkat dan hanyut kemudian mengkontaminasi air, bahan pangan, atau menginfeksi langsung manusia, seperti  diare, disentri, kecacingan, leptospirosis;
·        penyakit akibat jamur terutama akibat kelembaban pada pakaian;
·        penyakit tidak menular seperti asma, rhinitis, perburukan penyakit kronik;
·        dan penyakit yang disebabkan vektor, seperti: demam berdarah,


Dari jenis2 penyakit tadi, yang sering menimbulkan atau berpotensi wabah/KLB Penyakit, penyakit apa?
·        Semua penyakit menular sebagian besar berpotensi menimbulkan KLB penyakit
·        Ada jenis penyakit yang cepat sekali menular kepada orang lain, diantaranya: Demam Berdarah, Chikungunya dan Diare
Khusus penyakit demam berdarah, bagaimana risiko penularannya?
·        Pada peralihan musim penghujan perlu diwaspadai akan munculnya penyakit demam berdarah. Pada masa ini, populasi nyamuk demam berdarah meningkat karena banyaknya tempat perindukan.
·        Karakteristik nyamuk Aedes, hidup pada genangan air jernih, yang tidak menyentuh tanah secara langsung. Dengan adanya barang-barang seperti kaleng, ban bekas, tempayan yang terisi air, jika tidak diamankan, sangat disukai nyamuk untuk berkembang biak.
·        Selama tahun 2011 tercatat 31 dan selama bulan Januari ada 2 kasus DBD di Kebumen ada di beberapa tempat
·        Kasus DB sudah muncul tidak hanya di perkotaan
·        Kelompok masyarakat yang paling rentan dalam kondisi ini biasanya: anak-anak, khususnya Balita, ibu hamil dan ibu menyusui, orang tua serta orang dengan berbagai penyakit kronis.
Untuk penyakit Chikungunya, bagaimana risiko penularannya?
·        Penyakit chikungunya adalah penyakit yang di sebabkan oleh virus chik yang di bawa oleh nyamuk Aedes Aegypti. Nyamuk yang juga penular penyakit demam berdarah.
·        Penderitanya merasakan demam dan nyeri hebat pada persendian yang merupakan gejala khas demam Chikungunya



Untuk penyakit diare, bagaimana risiko penularannya?
·        diare adalah buang air besar (BAB) encer lebih dari 3 kali sehari dengan atau tanpa darah atau lendir
·        penyakit ini diakibatkan oleh bakteri, terutama pada daerah yang airnya meluap sehingga bakteri dari septic tank kemudian mengkontaminasi air, bahan pangan atau bahkan makanan
·        Dapat menimpa pada seluruh golongan umur
·        Selama tahun 2011 tercatat 19.275 orang
Bagaimana upaya Dinas Kesehatan?
·        Sebagai antisipasi dengan datangnya musim penghujan, Kementerian Kesehatan hingga Dinas Kesehatan dan Puskesmas, telah melakukan upaya peningkatan promosi kesehatan kepada masyarakat tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
·        terutama dalam hal penggunaan air bersih; cuci tangan dengan air bersih dan sabun; penggunaan jamban sehat, pemberantasan jentik di rumah, sekolah, kantor, dan lingkungan sekitar; konsumsi buah dan sayur setiap hari; beraktivitas fisik setiap hari; membuang sampah pada tempatnya; tidak meludah sembarangan; serta penggunaan alat pelindung diri, misalnya memakai sepatu boot saat terjadi banjir untuk menghindari infeksi leptospira dan memakai lotion anti nyamuk di wilayah rawan/endemis demam berdarah
·        Bagi petugas kesehatan, diingatkan, untuk meningkatkan kewaspadaan dini dengan surveilans melalui sarana yang tersedia, diantaranya melalui early warning alert response system (EWARS), laporan mingguan kewaspadaan penyakit, surveilans aktif mingguan, dan sms gateway 083-876543-100; meningkatkan pengawasan faktor risiko lingkungan seperti higiene sanitasi air dan lingkungan, tempat perindukan nyamuk, dan lain-lain terutama di daerah banjir dan rawan banjir, menyediakan logistik bahan penjernih air; menyiapkan obat dan alat kesehatan yang memadai di Puskesmas, Rumah Sakit dan sarana pelayanan kesehatan; serta berkoordinasi dengan dinas kesehatan provinsi dan  Unit Pelaksana Teknis (UPT) serta lintas sektor terkait.



Bagaimana upaya pencegahannya di masyarakat
1.      Lingkungan harus selalu diperhatikan agar tetap bersih.
·        Pastikan bahwa makanan dan minuman yang masuk ke dalam mulut terjamin kebersihannya dan higienis pengolahannya. Ajarkan pada anak untuk tidak jajan sembarangan. 
·        Guna memutus perkembangbiakan nyamuk dan mencegah terjadinya KLB DBD dan Chikungunya, warga dihimbau untuk mengoptimalkan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di lingkungan rumah masing-masing Melalui kegiatan 3M+ (Menutup, Menimbun dan Mensuras plus memelihara ikan pemakan jentik, menabur larvasida, menggunakan kelambu pada waktu tidur, memasang kasa, menyemprot dengan insektisida, menggunakan repellent, memasang obat nyamuk dan memeriksa jentik berkala.)
·        Dinkes melalui Puskesmas juga berupaya memberikan kepada masyarakat bubuk abate dan penyuluhan, mengoptimalkan kerja para kader puskesmas menyebarkan informasi tentang PSN. Selain itu, juga melakukan fogging di kawasan-kawasan yang terdapat kasus setelah melalui penilaian  dan criteria bahwa: apabila hasil Penyelidikan Epidemiologi ditemukan penderita DB lain atau ≥ 3 tersangka serta ditemukan ≥ 5 % rumah (radius 100m dari penderita) terdapat Jentik nyamuk

2.    Menjaga agar tubuh tetap sehat
·        Jaga kualitas dan kebersihan makanan
·        Perbanyak makan sayur dan buah
·        Hindari atau kurangi makan makanan dan minuman yang terlalu dingin, terlalu manis dan goreng-gorengan, karena akan merangsang dan mudah mengiritasi tenggorokan
·        Suplementasi mineral dan multivitamin

Senin, 07 November 2011

Konsolidasi Program Lingkungan Sehat 2011

Pendahuluan
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah melalui Seksi Penyehatan Lingkungan Bidang Bindal Penyakit dan Penyehatan Lingkungan menyelenggarakan Pertemuan Konsolidasi Program Lingkungan Sehat 2011, pada 10 Februari 2011 di aula Wijaya Kusuma lantai delapan. Diikuti oleh Penanggungjawab Progam Lingkungan Sehat Dinas Kesehatan Kabupaten dan Kota Se Jawa Tengah. 

Prioritas Program
Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2010 – 2014 prioritas ketiga adalah kesehatan dengan menitikberatkan pembangunan kesehatan melalui pendekatan preventif, tidak hanya kuratif , melalui peningkatan kesehatan masyarakat dan lingkungan diantaranya dengan perluasan akses air bersih, pengurangan wilayah kumuh sehingga secara keseluruhan dapat meningkatkan angka harapan hidup dan pencapaian keseluruhan sasaran Millenium Development Goal (MDGs) tahun 2015.  
Program Lingkungan Sehat merupakan salah satu pendukung dalam pencapaian tujuan MDGs yaitu tujuan 7 (Kelestarian Lingkungan) pada target 10 yaitu peningkatan akses penduduk terhadap air bersih dan sanitasi dasar yang berkualitas. Pencapaian tujuan 7 dan target 10 MDGs di tingkat provinsi perlu didukung capaian di tingkat kabupaten/kota, dan seluruh pemangku kepentingan yang terdiri dari Pemerintah, dunia usaha dan masyarakat . Upaya-upaya khusus dan yang lebih keras lagi perlu tetap dilakukan untuk mempertahankan dan meningkatkan kinerja capaian tujuan 7 dan target 10 MDGs.

Strategi Pencapaian
  1. Mensinergikan tujuan Millenium Development Goals dalam pembangunan penyehatan lingkungan melalui rencana aksi daerah. 
  2. Mengacu kepada pokok kegiatan Kementerian Kesehatan untuk kegiatan penyehatan lingkungan yaitu : a. Penyehatan air minum dan sanitasi dasar. b. Penyehatan permukiman dan tempat – tempat umum. c. Penyehatan kawasan dan sanitasi darurat. d. Pengamanan limbah. e. Hygiene sanitasi pangan  
  3. Melakukan pendekatan program melalui: a. Pengembangan sanitasi total berbasis masyarakat b. Pengembangan kabupaten/kota sehat. c. Pengawasan kualitas air minum. d. Pengawasan tempat – tempat umum dan rumah sehat. e. Pengelolaan limbah dan analisis dampak kesehatan lingkungan  
  4. Peningkatan kegiatan komunikasi, edukasi dan informasi, penguatan surveilans faktor resiko lingkungan dan peningkatan pemberdayaan masyarakat dalam kegiatan penyehatan lingkungan. 
  5. Melakukan Monitoring dan evaluasi dalam upaya identifikasi pelaksanaan dan pengukuran kinerja hasil kegiatan.

Selasa, 01 November 2011

Pedoman Pelaksanaan PAMSIMAS Komponen B Kesehatan

Download

Pedoman Umum & Strategi CLTS

Pedum Promkes Masyarakat - Revisi

Pedum Promkes Sekolah - Revisi

Strategi Pemicuan CLTS - Revisi

Inst Monitoring

Panduan HCTPS Sedunia

Sertipikasi Stop BABS

Tangga Sanitasi - Revisi

HOW TO GUIDE MEDIA

METODE DAN MEDIA

PEMASARAN SANITASI

PELAKSANAAN STBM dlm PAMSIMAS

PHBS RUMAH TANGGA

PHBS-KESLING-PENYAKIT

STRATEGI AKSI CLTS

Desa Lokasi PAMSIMAS Kabupaten Kebumen

Silahkan klik nama desa yang aktif untuk melihat Foto Progres Kegiatan Pamsimas
Sumber: Website PAMSIMAS
Tahun 2008
Tahun 2009
Tahun 2010 
1. Karangrejo. 1. Logandu.  1. Grenggeng
2. Ginandong. 2. Sidototo.  2. Wonorejo
3. Giritiro. 3. Krakal.  3. Karangtengah
4. Padureso. 4. Kalibeji.  4. Kaligending
5. Watulawang. 5. Pohkumbang.  5. Gemeksekti
6. Peniro. 6. Lerep Kebumen.  6. Tanahsari
7. Kedungwaru. 7. Giripurno.  7. Jatipurus
8. Kalirancang. 8. Karangpoh.  8. Pasuruhan
9. Soka. 9. Sadang Wetan.  9. Sukomulyo
  10. Cangkring.  10. Pucangan
  11. Pagebangan.  11. Kenteng
  12. Tlepok.  12. Somagede
  13. Tlogorejo.  
  14. Sadang Kulon  Desa Replikasi :
  15. Wangirpandan.  13. Seboro